Bunda Yeri




3.1.a.8 KONEKSI ANTAR MATERI 

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN 

SEBAGAI PEMIMPIN

OLEH :

YERI DWI WULANDARI,M.Pd

TKIT NURUL HIDAYAH SAMPANG


CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 

6 KABUPATEN SAMPANG

KELAS 28


“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

*Dari kutipan diatas, bahwa dalam pendidikan yang terpenting mengajarkan mereka bukan dari segi kognitifnya saja namun dari berbagai aspek perkembangannya, Nilai agama moral, fisik motorik, bahasa, seni dan sosial emosinya serta karakternya yang perlu dikembangkan.

* Nilai-nilai kebajikan universal yang kita yakini serta prinsip-prinsip yang kita anut dalam pengambilan keputusan dapat menghasilkan solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, memberikan perubahan yang baik pada lingkungan kerja serta membuat atmosfer yang kondusif bagi warga sekolah.

* Sebagai pemimpin pembelajaran dikelas saya mulai dapat mengambil keputusan  dari kasus-kasus yang saya alami yang berupa dilema etika maupun bujukan moral dengan berbekal ilmu dari modul 3.1 tentang 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah . Sehingga keputusan yang saya ambil dapat dipertanggung jawabkan, mengandung nilai-nilai kebajikan serta berpihak pada murid. 


1.    Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

     Filosofi Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso sung Tulodo (menjadi teladan/inspirasi). Seorang pemimpin (guru) haruslah memberikan teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin haruslah mampu menarik unsur-unsur di sekitarnya untuk bisa diajak bersinergi mencapai sebuah visi sekolah. Ing Madyo Mangun Karso (menciptakan prakarsa dan ide), seorang pemimpin (guru) harus bisa bekerja sama dengan peserta didiknya . Seorang pemimpin haruslah mampu mempererat hubungan antara guru dengan murid, namun tidak melanggar etika jalur pendidikan. Tut Wuri Handayani (memberi dorongan/semangat), seorang pemimpin (guru) harus bisa menjadi motivator atau pemberi semangat bagi anak didiknya (murid). Misalnya memotivasi peserta didiknya untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Karena Pendidikan itu memerdekakan.Sebagai pemimpin pembelajaran tentunya pengambilan keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat berpihak pada murid. Lingkungan belajar yang kondusif, positif, aman, dan nyaman serta dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab akan memengaruhi pengambilan keputusan. Lebih baik lagi sebelum mengambil keputusan perlu dilakukan pengujian keputusan. Berdasarkan 3 prinsip, 4 paradigma, dan 9 langkah pengambilandan pengujian keputusan.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

    Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang pendidik adalah nilai kebajikan Universal yaitu: kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, gotong-royong dan nilai kebaikan lainnya. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai yang paling kita yakini dalam hidup dan sangat berpengaruh pada pembentukkan karakter, perilaku dan membimbing dalam kita mengambil sebuah keputusan. Sebagai Guru Penggerak, tentunya ada beberapa nilai-nilai yang harus dipegang diantaranya; mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid dimana nilai-nilai tersebut merupakan manivestasi dari pengimplementasian kompetensi sosial emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan berinteraksi sosial dalam mengambil keputusan secara kesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi. Serta pengambilan keputusan juga didasarkan pada 3 prinsip dalam menyelesaikan kasus Dilema Etika diantaranya; berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinkhing), berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking), dan berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).

3.Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

    Seorang pendidik harus mampu mengetahui dan memahami kebutuhan belajar serta kondisi sosial dan emosional dari muridnya. Sehingga pendidik (guru) bertugas untuk memberikan arahan atau tuntunan kepada murid agar mereka mampu menyelesaikan permasalahan belajarnya sendiri. Pentingnya pendekatan Coaching dilaksanakan oleh guru, karena guru dalam hal ini sebagai coach akan menggali potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan memberi pertanyaan pemantik sehingga murid dapat menemukan potensi yang terpendam dalam dirinya untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan. Coaching dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat yang akan berpengaruh sehingga terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dengan demikian akan berpengaruh bagi murid dalam proses pembelajaran

    Pada sesi coaching membantu guru untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki dan memecahkan permasalahan saat menjadi pemimpin pembelajaran, sehingga pada saat menentukan suatu permasalahan dilema etika seorang guru mampu mengidentifikasi suatu permasalahan dengan tehnik coaching, sehingga mampu menghasilkan keputusan yang tepat dan berpihak pada murid. Langkah-langkah Coaching yang dilakukan menggunakan alur TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Coaching dengan alur TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

    Seorang Pendidik harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan, konsekuensi yang akan terjadi, dan meminilisir kesalahan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi.dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada murid .

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik ?

    Sebagai pemimpin pembelajaran, seorang pendidik harus mampu melihat permasalahan yang dihadapi apakah permasalahan tersebut merupakan dilema etika ataukah bujukan moral. Dengan nilai- nilai yang dimiliki seorang pendidik tersebut, baik nilai inovatif, kolaboratif, mandiri dan reflektif seorang pendidik dapat menuntun muridnya untuk dapat mengenali potensi yang dimiliki dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah yang dihadapi sehingga dengan nilai-nilai dari seorang pendidik tersebut, yang merupakan landasan pemikiran yang dimiliki akan cenderung pada prinsip melakukan demi kebaikan orang banyak, menjunjung tinggi prinsip- prinsip/ nilai- nilai dalam diri dan melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan lakukan kepada diri kita. Maka seorang pendidik akan dapat mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian sebuah keputusan terkait permasalahan yang terjadi.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

     Seorang pemimpin pembelajaran sering dihadapkan pada situasi dimana kita diharuskan mengambil suatu keputusan secara cepat dan tepat, namun terkadang dalam pengambilan keputusan terutama pada situasi dilema kita masih kesulitan misalnya lingkungan yang kurang mendukung, bertentangan dengan peraturan, pimpinan tidak memberikan kepercayaan karena merasa lebih berwenang, dan meyakinkan orang lain bahwa keputusan yang diambil sudah tepat, perbedaan cara pandang serta adanya opsi benar lawan benar. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan yang tepat dan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali terlebih dahulu kasus yang terjadi apakah kasus tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral. Jika kasus tersebut merupakan dilema etika, sebelum mengambil sebuah keputusan kita harus mampu menganalisa pengambilan keputusan berdasarkan pada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga hasil keputusan yang kita ambil mampu menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman untuk semua warga sekolah.

7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda

Kesulitan-kesulitan di lingkungan saya dalam mengambil keputusan terhadap kasus-kasus dilemma etika diantaranya; 1) kesulitan yang bersumber pada diri sendiri  2) belum semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalakan keputusan bersama,  3) tidak melibatkan guru atau warga sekolah lainnya 4)kita tidak mempunyai pilihan yang lain karena aturan yang ada pada pimpinan/ sekolah,5)) adanya nilai-nilai kecenderungan untuk berpihak pada pertemanan yang masih kental dalam budaya di lingkungan menimbulkan rasa kasihan lebih dominan dan terburu-buru dalam pengambilan keputusan.6) Rasa takawatir dari kegagalan mengambil keputusan di masa lalu. Oleh karena itu kita berpedoman terhadap 3 prinsip yang perlu dipertimbangkan yaitu :  prinsip berpikir berbasis hasil akhir,  prinsip berpikir berbasis peraturan serta prinsip berpikir rasa peduli.

8.  Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Dalam mengekspresikan ilmu


  Saat pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kita harus benar- benar memperhatikan kebutuhan belajar murid. Jika keputusan yang kita ambil sudah mempertimbangkan kebutuhan murid yang akan dapat menggali potensi yang ada dalam dirinya dan kita sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya dan menuntun murid dalam mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga keputusan kita dapat berpengaruh terhadap keberhasilan murid di masa yang akan datang. Pendidik yang mampu mengambil keputusan secara tepat akan memberikan dampak akhir yang baik dalam proses pembelajaran sehingga mampu menciptakan well being murid untuk masa depan yang lebih baik.


9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-murid ?

Dalam mengambil sebuah keputusan seorang pemimpin lebih dahulu memahami anak didik nya.  Mereka perlu bimbingan dan motivasi untuk mengembangkan kemampuannya. Salah dalam pengambilan keputusan maka akan berakibat fatal terhadap perkembangan peserta didik. 

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

    Sebagai pendidik yang peran utamanya menuntun segala kodrat yang dimiliki anak.menyimpulkan bahwa pembelajaran modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran terkait dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya, merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan untuk memerdekakan murid dalam belajar. Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan menuntut segala proses dan kodrat atau potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat.

    Seorang pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan.

    Dengan berbekal keterampilan coaching ini dapat membantu murid dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri tidak sebatas pada murid, keterampilan coaching dapat diterapkan pada rekan sejawat atau komunitas terkait permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran. Selain itu diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan dan proses pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfullness), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang akan terjadi


1111.Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?


·   ilema etika apabila kasusnya sama sama memiliki opsi benar sedangkan Bujukan Moral salah satunya benar dan satunya salah. 

 Dan 4 paradigma yaitu :

1.Individu lawan kelompok (individual vs community )

2.rasa keadilan lawan rasa kasihan ( justice vs mercy)

3.Kebenaran lawan kesetiaan ( truth vs loyalty)

4.Jangka pendek lawan jangka panjang ( short term vs long term)

 

3 Prinsip pengambilan keputusan :

1.Berpikir berbasis hasil akhir (End based thinking)

2.Berpikir berbasis peraturan ( Rule based thinking)

3.Berpikir berbasis Rasa Peduli (Care based thinking )

 

9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan

1.Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3.Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4.Pengujian benar atau salah ( uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji piblikasi, uji panutan )

5. Pengujian paradigma benar lawan benar

6. Melakukan prinsip resolusi

7. Investigasi Opsi Trilema

8.Buat keputusan

9.Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

 

·      *   Hal-hal diluar dugaan terkadang terjadi ketika kita akan mengambil suatu keputusan yaitu Opsi Trilema Etika. Dimana ketika kasus dilema etika itu akan diputuskan, maka muncullah ide-ide yang tak terduga dalam permasalahan tersebut. 

 

1112. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

    Sebelum mempelajari Modul ini saya seringkali dihadapkan oleh dilema etika, namun saya mengambil keputusan hanya berdasarkan intuisi saja, pengalaman serta pendapat dari beberapa orang yang saya anggap kompeten di bidangnya. Namun setelah mempelajari Modul 3.1 saya memahami bahwa dalam mengambil sebuah keputusan memerlukan keterampilan untuk menganalisis paradigma, prinsip dan langkah-langkah tertentu untuk memperoleh solusi yang terbaik dan tidak merugikan kedua belah pihak

13.Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini ?

Dampak yang saya dapatkan dalam mempelajari modul ini sangatlah besar yaitu saya lebih percaya diri dan tidak ragu-ragu dalam mengambil sebuah keputusan dari kasus dilema etika, Ketika saya dihadapkan pada sebuah kasus sebelum saya mempelajari Modul 3.1 saya kurang memahami cara pengambilan kepurtusan yang baik. Dan banyak istilah –istilah yang baru pertama kali saya pelajari. Namun setelah mempelajari dari Modul, mengisi LMS serta mengikuti ruang kolaborasi dan Elaborasi Pemahaman saya menjadi paham tentang paradigma , prinsip serta langkah dalam mengambil suatu keputusan.



14 Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Menurut saya semua bidang ilmu adalah penting, apalagi mempelajari ilmu yang berhubungan dengan peningkatan kompetensi kita sebagai pendidik maka ilmu itu sangatlah bermanfaat. Modul 3.1 yang mempelajari bagaimana kita mengambil suatu keputusan dapat kita aplikasikan pada kasus-kasus kita sebagai individu misalnya saja : masalah yang dihadapi dengan diri sendiri, dengan keluarga, bahkan  dengan teman . Sedangkan sebagai seorang pemimpin maka mempelajari modul ini lebih penting lagi karena kita sebagai pemimpin dituntut lebih bijaksana , menjadi panutan dan menyangkut kemaslahatan bagi orang banyak. Terlebih bagi pemimpin pembelajaran, karena sekolah merupakan institusi moral maka baiknya pengambilan keputusan itu mengikuti prosedur yang telah dipelajari sehingga menghasilkan keputusan yang baik.

















Komentar

  1. luar biasaaa bun.....detail sehingga mudah di pahami...ditunggu karya hebatnya bun...sukses selaluu

    BalasHapus
  2. Mantap Bu Yeri. Terus Berkarya dan menginspirasi...

    BalasHapus

Posting Komentar